Pernahkah terpikir di benak kita, bahwa kita mungkin pernah ‘mabuk’ dan ‘berjudi’ dalam kehidupan sehari-hari? Ini tentang mabuk yang lain, dan bukan judi yang itu, walaupun prinsipnya sama. Sama-sama ‘menyia-nyiakan’ bahkan ‘menghilangkan’ kemampuan akal pikiran manusia, dan bayangkan tanpa sadar itu kita (atau saya) melakukan itu hampir setiap hari.
Mengejutkan memang ketika saya kemudian menyadari, “Ya Allah, I just did that a few days ago…” saya telah berjudi dalam hidup saya dan saya pun cukup ‘mabuk’ ketika melakukannya. Let me tell you what I really mean :
Beberapa minggu lalu seorang teman baik bercerita tentang kabarnya. Diantara chit chat yang terjadi, akhirnya dia menawarkan saya sebuah posisi yang lowong. “Butuh cepat” katanya, yang artinya buat saya butuh proses pengambilan keputusan yang juga cepat.
Pekerjaan itu sebenarnya ditawarkan buat dia, bahkan kesepakatan pun sudah terjadi antara teman saya dan pihak perusahaan, sampai tahap munculnya angka nominal. Tapi unfortunately (atau fortunately?) ada sedikit gangguan di kandungannya yang kemudian berujung pada ketidaksanggupannya memenuhi kesepakatan untuk bekerja. Dengan niat baik, teman saya menawarkan pekerjaan itu kepada saya karena dia mengetahui status saya yang lumayan tidak jelas, bekerja tidak, nganggur juga bukan.
Karena negosiasi dengan dia sudah mencapai kesepakatan nominal, detil pekerjaan juga sudah dibahas tuntas dengan pihak perusahaan. Sehingga dengan gamblang dia bisa menjelaskan kepada saya bagaimana kira-kira profil pekerjaan itu dan apa saja yang bisa saya harapkan. Wow, betapa memudahkan…
Dengan eagerness yang semakin bertambah, saya mulai menggali beberapa facts yang saya perlukan untuk lebih memudahkan saya mengambil keputusan : Status adalah pegawai kontrak untuk 2-3 bulan (hmm, ini akan jauh memudahkan saya untuk menyudahi pekerjaan bilamana saya merasa tidak kerasan)… check! Salary cukup untuk kebutuhan saat ini (untuk poin ini rasanya saat ini saya tidak terlalu demanding) … check! Butuh sedikit pengorbanan dengan bersedia lembur tanpa uang lembur, walaupun akan ada penggantian uang transportasi (lembur bukan hal baru buat saya, bahkan pekerjaan saya terdahulu bikin saya harus stay overnight. anyway toh tidak akan setiap hari)… check! Lokasi cukup jauh (tapi cukup bus-friendly)… check! Lalu apalagi? Ohya, pekerjaan ini adalah full administration work (WHAT??! Oke, wait a second…)
Sejenak pikiran saya mulai sibuk mengirimkan alarm SOS, “Mayday…mayday, administration is definitely not your field. You’re not quite organized with paper work. Hello! Do you realize, it don’t suit you. It’s not…” SHUT UP!
Segera pikiran saya terbungkam, ternyata ada oknum lain yang lebih berkuasa saat itu, entah apa. Coba dengarkan pembenarannya :
“Listen, u’re not know yourself right now,… not yet. And what if it is good for you? What really suit you, you don’t know that for sure. What if to reach your true field, you have to surpass this thing first? What if you need to learn to be more organized through this ‘paper work’ job? Why not at least try… you’ll never know unless you try. Otherwise, you need number of cash right now, do you?”
Hmm… benar juga, anyway I’ve got nothing to loose. Saat itu saya betul-betul tidak sadar bahwa saya mungkin sedang berjudi dengan hidup saya, dengan ‘diri’ saya yang sebenarnya. Walaupun sepertinya perjudian itu saya lakukan dengan satu keyakinan bahwa Tuhan pasti paling tahu yang terbaik buat saya. Pada akhirnya kalau ini bukan untuk saya, saya juga tidak akan diterima.
Tapi lihatlah betapa manjanya saya, betapa saya sekaligus berjudi dan mabuk di saat yang sama. Di saat akal saya belum habis, saya dengan mudah menyerahkan urusan ini kepada-Nya. Saya mabuk akan pemahaman “kebergantungan pada Allah” yang salah saya terjemahkan.
Alhasil, saya bukan hanya tidak mengindahkan hasil riset pikiran saya dengan data-data tentang diri yang sudah dikumpulkannya selama ini, tapi saya juga dengan sombong menerima ‘ujian kemudahan’ ini dengan prasangka yang bertubi-tubi, “Ah apa susahnya sih administrasi, apa iya saya ga bisa? Wong temen saya aja diterima, masak iya saya tidak?” Sangat tipikal orang yang mabuk akan kemampuan diri
kan
? Padahal seharusnya saya cukup yakin bahwa paper work sebagai pekerjaan utama pasti akan membuat saya lelah dan bosan.
Singkat cerita, akhirnya dengan tergesa saya terima tawaran untuk interview, walaupun Alhamdulillah dengan sedikit kegamangan disana-sini. Dan saya toh tetap tidak mampu berjalan dengan “gagah” walaupun sudah berbekal kesombongan.
Setelah proses wawancara, saya jadi semakin gamang… Mbak yang bertugas meng-interview saya dengan blak-blakan menggambarkan mekanisme kerja yang harus saya pahami. Bagaimana nanti saya akan di-push oleh deadline, karena project yang akan saya tangani sudah tertunda 2 tahun, dimana posisi saya akan jadi ‘kutub’ dari banyak pihak (para sub-contractor, klien dan perusahaan) sebagai pusat data compiling… bla… bla… bla.
Terus terang mendengarkannya saja saya sudah jengah. Sementara mbak pewawancara berbicara, saya hanya terdiam mengambang. Saya sama sekali tidak bisa membayangkan air muka saya saat itu, bengong-kah? takjub-kah? Mudah-mudahan saja saat itu mulut saya tidak menganga… ha ha ha.
Apa yang saya anggap remeh ternyata sama sekali sulit buat saya terima. Walaupun kelihatannya cuma filing, fotocopy dan bikin laporan, tapi justru rutinitas itu yang sulit saya lakukan. Dan ketika interview itu berakhir, toh saya tetap menjawab ‘iya’, ketika ditanya apakah kira-kira saya mengerti dan sanggup mengerjakannya. Saya cukup yakin, dia sangat meragukan saya dengan mimik saya yang seperti tadi
Akhirnya dengan janji akan menghubungi saya paling lambat 2 hari ke depan untuk keputusannya, saya pulang ke rumah dengan lega.
2 hari berlalu, tanpa pemberitahuan apa pun, Alhamdulillah saya pun tidak cemas menunggu. Walaupun tetap ada keingintahuan akan kepastian diterima atau tidak, tapi itupun hanya untuk sebuah konfirmasi pada diri saya : apakah ternyata alarm yang dikirim pikiran saya itu akurat atau hanya false alarm saja?
Dan seperti biasa, langkah berikut adalah mencoba menganalisa dan mengambil pelajaran darinya, karena saya cukup merasa rugi untuk meninggalkan sebuah peristiwa tanpa mencoba sedikit melakukan analisa. Karena bisa jadi kejadian serupa akan berulang, yaitu “hadiah-hadiah” ujian kemudahan. Apakah itu kemudahan yang semakin mengalirkan kita atau justru sebuah tes : apakah kita akan serta-merta memangsa “makanan” yang mudah didapat tanpa betul-betul memanfaatkan akal pikiran untuk lebih mengenali tepat atau tidaknya buat kita. Untuk kasus saya yang ‘lumayan’ sederhana ini, masih untung saya diselamatkan oleh takdir bahwa saya tidak diterima. Andaikata kasus itu ‘diperpanjang’ dengan penerimaan saya, dan saya dihadapkan pada pilihan kedua : ambil atau tidak ya?, hmm… saya tidak bisa membayangkan diri saya terjebak di dalam rutinitas pekerjaan yang membebani seperti itu.
Dan kalau lain waktu saya dengan mudah berpikir, “coba-coba aja, toh nothing to loose”, I’d better think twice! Cos I might loosing something instead. Bisa jadi saya akan kehilangan kemampuan akal saya untuk menganalisa secara haqq apa yang sebenarnya paling tepat buat saya. Dan mungkin lain kali, alarm-alarm itu jadi malas berbunyi, karena sudah terlalu kerap saya abaikan.
ps.
Saya jadi GR merasa lagu dangdut abadi ini ditujukan buat saya :
“Mabok lagiiiii… ah mabok lagi,
Judi lagiiiii…aaah judi lagi…”