March 16th, 2007 by melissa-secretgarden

dera hujan dan panas matahari berebut saling membunuh

hari semakin bingung untuk menamai musim
kemarau dan penghujan tak lagi punya tempat yang pasti

serupa ketidak kekekalan rasa yang menguar keluar dari dada
cinta dan benci saling berebut saling membunuh
panas dan sejuk bergantian menyusup hati
haruskah begini?

February 4th, 2007 by melissa-secretgarden

Adam_and_eve

i didn’t know that all this time, i grew up with the
attached dirt

i can’t even realize how huge and how annoying the dirt was

people looking at me with the strange look on their face

now i know, that’s because they all have seen the dirt

i’d been carried around with me,

maybe since the day i was born

and maybe it’s all over me

all over my body… maybe

everybody saw that dirt,
everybody but me

 

i kept telling them that there was nothing wrong with me

and when i got upset, i desperately yelled at them who’d
tried to pointed at my face

maybe they just tried to let me know about the presence of
my dirt

i kept yelled at them, "who d h*ll are you? thinking
that u know me better than myself?"

i felt like my head is gonna explode sometimes … no, it
had happened many times!

 

i always tried to defense all the incoming attacks

it’s obvious that they will kept saying what they wanna say

and i foolishly blabbed out a thought about myself

so frustrating… and then i got tired, finally…

 

and in my silence moment, i let go all anger…

i released my pain,

i was beginning to hear voices. sounds strong but tender

it said, "reflect your self!"

and i repeated in doubt, "reflect myself? … on
what?"

it said (again, this time calmer), "go reflect
yourself…"

i still didn’t got what it meant

and at the same time there was a
crystal-clear-almost-like-frameless mirror right in front of me

and it gave me the sheerest reflection i had ever saw

 

i saw me… only me

standing there with the dirt
all over me

what took me so long to realize, i brought the DIRT with me
all this time

i grew up with the attached dirt

i saw me… in tears

full of painful feeling, remembering my thoughtless past

yet so grateful, for gave me such an honest reflection of
myself

and i saw what everybody had saw

only this time, there’s no more anger nor pain

 

 

…treasure
your heart, for it can be the most genuine mirror

with the
truest reflection you
could ever see…ica@01.02.07

 

di Penghujung Babak ini

November 8th, 2006 by melissa-secretgarden

Aku hanya sempalan di salah satu bagian kisah panjang hidupmu,
Jangan kuatir…
Kita sudah sampai di penghujung babak ini.

Betapa murah hati sang Sutradara,
Memberi kesempatan untuk ikut andil,
Menyematkan sentuhan untuk akhir babak ini,
Dengan caraku sendiri….

Koperku sudah teronggok di situ,
Aku sudah siap pergi,
Peranku selesai untuk babak ini,
Aku sedang bersiap untuk adegan yang lain,
Mungkin di sana kita akan bertemu lagi,
Mungkin juga tidak.

Naskah bisa diubah tiba-tiba,
Ha…ha… itulah nasib pemain seperti kita.

Semoga akting ku kemarin tidak mengecewakanmu,
Juga maaf tentang sentuhan akhir itu,
Sampai nanti…
(Atau sampai di sini.)

ic@august06

Kinanti

November 8th, 2006 by melissa-secretgarden

Buluh-buluh rinduku berlabuh di dirimu.
Riak-riak ceritaku berarak-arak menujumu.

Tapi kau tak jua hadir.
Di sangkar yang sudah selesai kujalin.

G’rangan kemana perginya perempuanku.
Mengendap-endap tinggalkanku.

Kapanpun.
Kunanti, Kinanti ku.

labirin hati

March 12th, 2006 by melissa-secretgarden

Labirin2   

   bebaskan aku dari kisruhnya labirin kehidupan
   jalan memutar, dinding-dinding menghadang
   kemana berpaling, kutatap hanya penghalang
   tak adakah jalan keluar?

"cobalah endapkan rasa, anakku…
bersihkan langit hatimu dari mega
alirkan sungai yang tanpa riak
lepaskan beban yang berkelebihan"

"maka kau akan membumbung tinggi, anakku…
seperti balon kosong yang terbang pergi
menatap hiruk pikuk para pencari
di labirin yang menguji"

"dan seketika labirin tak lagi segelap misteri
ia tergambar dengan pola pasti
jangan pernah keluar, anakku…
karena kau takkan pernah terbebas darinya"

"tembus dan terjang saja rintangnya
toh itu hanya reka matamu sendiri
ikuti alurnya jangan berhenti
sampai kau merasuk ke dalamnya"

"dan kau temukan kemerdekaan
menunggumu dengan damai
di pusat labirin hatimu sendiri"

ic@11mar06/18.00

sebuah dunia pura-pura

February 12th, 2006 by melissa-secretgarden

Fairytale5 selamat datang di dunia pura-pura
yang isinya makhluk-makhluk yang pura-pura jadi manusia
aku pura-pura jadi ibunya,
dia juga pura-pura jadi suamiku
aku pura-pura bahagia,
dan seringnya merasa pura-pura sedih
aku hidup di republik pura-pura,
yang kadang pura-pura lupa kalau punya presiden
ketika pemerintahnya pura-pura bikin pemilu,
kami rakyatnya juga pura-pura mengawasi
banyak yang pura-pura jadi orang pintar
‘ga sedikit yang pura-pura kaya
bahkan kadang aku pura-pura kasihan,
lihat orang yang pura-pura miskin
cinta yang kami kenal juga cinta pura-pura
karna sejak kecil kami selalu pura-pura belajar,
diajar mereka yang pura-pura jadi guru
tinggal di dunia pura-pura,
kita juga cuma pura-pura hidup
sampai kapan?
mungkin sampai kita berhenti pura-pura jadi manusia…

ic@12feb06/07.23

Judi yang me-Mabuk-kan

February 9th, 2006 by melissa-secretgarden

Pernahkah terpikir di benak kita, bahwa kita mungkin pernah ‘mabuk’ dan ‘berjudi’ dalam kehidupan sehari-hari? Ini tentang mabuk yang lain, dan bukan judi yang itu, walaupun prinsipnya sama. Sama-sama ‘menyia-nyiakan’ bahkan ‘menghilangkan’ kemampuan akal pikiran manusia, dan bayangkan tanpa sadar itu kita (atau saya) melakukan itu hampir setiap hari.

Mengejutkan memang ketika saya kemudian menyadari, “Ya Allah, I just did that a few days ago…” saya telah berjudi dalam hidup saya dan saya pun cukup ‘mabuk’ ketika melakukannya. Let me tell you what I really mean :

Beberapa minggu lalu seorang teman baik bercerita tentang kabarnya. Diantara chit chat yang terjadi, akhirnya dia menawarkan saya sebuah posisi yang lowong. “Butuh cepat” katanya, yang artinya buat saya butuh proses pengambilan keputusan yang juga cepat.

Pekerjaan itu sebenarnya ditawarkan buat dia, bahkan kesepakatan pun sudah terjadi antara teman saya dan pihak perusahaan, sampai tahap munculnya angka nominal. Tapi unfortunately (atau fortunately?) ada sedikit gangguan di kandungannya yang kemudian berujung pada ketidaksanggupannya memenuhi kesepakatan untuk bekerja. Dengan niat baik, teman saya menawarkan pekerjaan itu kepada saya karena dia mengetahui status saya yang lumayan tidak jelas, bekerja tidak, nganggur juga bukan.

Karena negosiasi dengan dia sudah mencapai kesepakatan nominal, detil pekerjaan juga sudah dibahas tuntas dengan pihak perusahaan. Sehingga dengan gamblang dia bisa menjelaskan kepada saya bagaimana kira-kira profil pekerjaan itu dan apa saja yang bisa saya harapkan. Wow, betapa memudahkan…

Dengan eagerness yang semakin bertambah, saya mulai menggali beberapa facts yang saya perlukan untuk lebih memudahkan saya mengambil keputusan : Status adalah pegawai kontrak untuk 2-3 bulan (hmm, ini akan jauh memudahkan saya untuk menyudahi pekerjaan bilamana saya merasa tidak kerasan)… check! Salary cukup untuk kebutuhan saat ini (untuk poin ini rasanya saat ini saya tidak terlalu demanding) … check! Butuh sedikit pengorbanan dengan bersedia lembur tanpa uang lembur, walaupun akan ada penggantian uang transportasi (lembur bukan hal baru buat saya, bahkan pekerjaan saya terdahulu bikin saya harus stay overnight. anyway toh tidak akan setiap hari)… check! Lokasi cukup jauh (tapi cukup bus-friendly)… check! Lalu apalagi? Ohya, pekerjaan ini adalah full administration work (WHAT??! Oke, wait a second…)

Sejenak pikiran saya mulai sibuk mengirimkan alarm SOS, “Mayday…mayday, administration is definitely not your field. You’re not quite organized with paper work. Hello! Do you realize, it don’t suit you. It’s not…” SHUT UP!

Segera pikiran saya terbungkam, ternyata ada oknum lain yang lebih berkuasa saat itu, entah apa. Coba dengarkan pembenarannya :

“Listen, u’re not know yourself right now,… not yet. And what if it is good for you? What really suit you, you don’t know that for sure. What if to reach your true field, you have to surpass this thing first? What if you need to learn to be more organized through this ‘paper work’ job? Why not at least try… you’ll never know unless you try. Otherwise, you need number of cash right now, do you?”

Hmm… benar juga, anyway I’ve got nothing to loose. Saat itu saya betul-betul tidak sadar bahwa saya mungkin sedang berjudi dengan hidup saya, dengan ‘diri’ saya yang sebenarnya. Walaupun sepertinya perjudian itu saya lakukan dengan satu keyakinan bahwa Tuhan pasti paling tahu yang terbaik buat saya. Pada akhirnya kalau ini bukan untuk saya, saya juga tidak akan diterima.

Tapi lihatlah betapa manjanya saya, betapa saya sekaligus berjudi dan mabuk di saat yang sama. Di saat akal saya belum habis, saya dengan mudah menyerahkan urusan ini kepada-Nya. Saya mabuk akan pemahaman “kebergantungan pada Allah” yang salah saya terjemahkan.

Alhasil, saya bukan hanya tidak mengindahkan hasil riset pikiran saya dengan data-data tentang diri yang sudah dikumpulkannya selama ini, tapi saya juga dengan sombong menerima ‘ujian kemudahan’ ini dengan prasangka yang bertubi-tubi, “Ah apa susahnya sih administrasi, apa iya saya ga bisa? Wong temen saya aja diterima, masak iya saya tidak?” Sangat tipikal orang yang mabuk akan kemampuan diri

kan

? Padahal seharusnya saya cukup yakin bahwa paper work sebagai pekerjaan utama pasti akan membuat saya lelah dan bosan.

Singkat cerita, akhirnya dengan tergesa saya terima tawaran untuk interview, walaupun Alhamdulillah dengan sedikit kegamangan disana-sini. Dan saya toh tetap tidak mampu berjalan dengan “gagah” walaupun sudah berbekal kesombongan.

Setelah proses wawancara, saya jadi semakin gamang… Mbak yang bertugas meng-interview saya dengan blak-blakan menggambarkan mekanisme kerja yang harus saya pahami. Bagaimana nanti saya akan di-push oleh deadline, karena project yang akan saya tangani sudah tertunda 2 tahun, dimana posisi saya akan jadi ‘kutub’ dari banyak pihak (para sub-contractor, klien dan perusahaan) sebagai pusat data compiling… bla… bla… bla.

Terus terang mendengarkannya saja saya sudah jengah. Sementara mbak pewawancara berbicara, saya hanya terdiam mengambang. Saya sama sekali tidak bisa membayangkan air muka saya saat itu, bengong-kah? takjub-kah? Mudah-mudahan saja saat itu mulut saya tidak menganga… ha ha ha.

Apa yang saya anggap remeh ternyata sama sekali sulit buat saya terima. Walaupun kelihatannya cuma filing, fotocopy dan bikin laporan, tapi justru rutinitas itu yang sulit saya lakukan. Dan ketika interview itu berakhir, toh saya tetap menjawab ‘iya’, ketika ditanya apakah kira-kira saya mengerti dan sanggup mengerjakannya. Saya cukup yakin, dia sangat meragukan saya dengan mimik saya yang seperti tadi :D

Akhirnya dengan janji akan menghubungi saya paling lambat 2 hari ke depan untuk keputusannya, saya pulang ke rumah dengan lega.

2 hari berlalu, tanpa pemberitahuan apa pun, Alhamdulillah saya pun tidak cemas menunggu. Walaupun tetap ada keingintahuan akan kepastian diterima atau tidak, tapi itupun hanya untuk sebuah konfirmasi pada diri saya : apakah ternyata alarm yang dikirim pikiran saya itu akurat atau hanya false alarm saja?

Dan seperti biasa, langkah berikut adalah mencoba menganalisa dan mengambil pelajaran darinya, karena saya cukup merasa rugi untuk meninggalkan sebuah peristiwa tanpa mencoba sedikit melakukan analisa. Karena bisa jadi kejadian serupa akan berulang, yaitu “hadiah-hadiah” ujian kemudahan. Apakah itu kemudahan yang semakin mengalirkan kita atau justru sebuah tes : apakah kita akan serta-merta memangsa “makanan” yang mudah didapat tanpa betul-betul memanfaatkan akal pikiran untuk lebih mengenali tepat atau tidaknya buat kita. Untuk kasus saya yang ‘lumayan’ sederhana ini, masih untung saya diselamatkan oleh takdir bahwa saya tidak diterima. Andaikata kasus itu ‘diperpanjang’ dengan penerimaan saya, dan saya dihadapkan pada pilihan kedua : ambil atau tidak ya?, hmm… saya tidak bisa membayangkan diri saya terjebak di dalam rutinitas pekerjaan yang membebani seperti itu.

Dan kalau lain waktu saya dengan mudah berpikir, “coba-coba aja, toh nothing to loose”, I’d better think twice! Cos I might loosing something instead. Bisa jadi saya akan kehilangan kemampuan akal saya untuk menganalisa secara haqq apa yang sebenarnya paling tepat buat saya. Dan mungkin lain kali, alarm-alarm itu jadi malas berbunyi, karena sudah terlalu kerap saya abaikan.

ps.

Saya jadi GR merasa lagu dangdut abadi ini ditujukan buat saya :

“Mabok lagiiiii… ah mabok lagi,

Judi lagiiiii…aaah judi lagi…”

Sebuah Wahyu Langsung Untuk ‘Ali

February 6th, 2006 by melissa-secretgarden

Suatu hari ketika ‘Ali sedang berada dalam pertempuran, pedang musuhnya  patah  dan  orangnya  terjatuh. ‘Ali berdiri di atas musuhnya itu, meletakkan pedangnya ke arah dada orang itu, dia berkata,  "Jika  pedangmu  berada  di  tanganmu, maka aku akan lanjutkan pertempuran ini, tetapi karena pedangmu patah,  maka
aku tidak boleh menyerangmu."

"Kalau   aku  punya  pedang  saat  ini,  aku  akan  memutuskan tangan-tanganmu dan kaki-kakimu," orang itu berteriak balik.

"Baiklah  kalau  begitu,"  jawab  ‘Ali,  dan  dia  menyerahkan pedangnya ke tangan orang itu.

"Apa  yang  sedang kamu lakukan", tanya orang itu kebingungan.
"Bukankah saya ini musuhmu?"

Ali memandang tepat di matanya dan  berkata,  "Kamu  bersumpah kalau  memiliki  sebuah  pedang  di  tanganmu,  maka kamu akan membunuhku. Sekarang kamu telah memiliki pedangku, karena  itu majulah  dan  seranglah  aku".  Tetapi  orang itu tidak mampu.

"Itulah kebodohanmu dan kesombongan berkata-kata," jelas ‘Ali.
"Di  dalam  agama  Allah tidak ada perkelahian atau permusuhan antara kamu dan aku. Kita bersaudara. Perang  yang  sebenarnya adalah  antara  kebenaran  dan  kekurangan  kebijakanmu. Yaitu antara kebenaran dan dusta. Engkau dan aku sedang  menyaksikan pertempuran itu. Engkau adalah saudaraku. Jika aku menyakitimu dalam    keadaan    seperti    ini,     maka     aku     harus mempertanggungjawabkannya   pada   hari   kiamat. Allah  akan mempertanyakan hal ini kepadaku."

"Inikah cara Islam?" Orang itu bertanya.

"Ya," jawab ‘Ali, "Ini adalah firman  Allah,  yang  Mahakuasa, dan Sang Unik."

Dengan  segera,  orang  itu bersujud di kaki ‘Ali dan memohon, "Ajarkan aku syahadat."

Dan ‘Ali pun mengajarkannya,  "Tiada  tuhan  melainkan  Allah. Tiada yang ada selain Engkau, ya Allah."

Hal  yang  sama  terjadi  pada  pertempuran  berikutnya.  ‘Ali menjatuhkan lawannya, meletakkan kakinya di  atas  dada  orang itu  dan  menempelkan  pedangnya  ke  leher  orang itu. Tetapi sekali lagi dia tidak membunuh orang itu.

"Mengapa kamu tidak membunuh aku?" Orang itu berteriak  dengan marah. "Aku adalah musuhmu. Mengapa kamu hanya berdiri saja?" Dan dia meludahi muka ‘Ali.

Mulanya ‘Ali menjadi marah,  tetapi  kemudian  dia  mengangkat kakinya  dari dada orang itu dan menarik pedangnya. "Aku bukan musuhmu",  Ali  menjawab.  "Musuh   yang   sebenarnya   adalah sifat-sifat  buruk  yang  ada  dalam  diri kita. Engkau adalah saudaraku,  tetapi  engkau  meludahi  mukaku.  Ketika   engkau
meludahi   aku,   aku  menjadi  marah  dan  keangkuhan  datang kepadaku. Jika aku membunuhmu dalam keadaan seperti itu,  maka aku  akan  menjadi seorang yang berdosa, seorang pembunuh. Aku akan menjadi seperti semua orang yang kulawan. Perbuatan buruk itu  akan  terekam  atas  namaku.  Itulah  sebabnya  aku tidak membunuhmu."

"Kalau begitu tidak ada pertempuran antara kau dan aku?" orang itu bertanya.

"Tidak.  Pertempuran  adalah  antara kearifan dan kesombongan. Antara kebenaran dan kepalsuan". ‘Ali  menjelaskan  kepadanya.
"Meskipun   engkau  telah  meludahiku,  dan  mendesakku  untuk membunuhmu, aku tak boleh."

"Dari mana datangnya ketentuan semacam itu?"

"Itulah ketentuan Allah. Itulah Islam."

Dengan segera orang itu tersungkur di kaki ‘Ali dan  dia  juga diajari dua kalimat syahadat.

(from M.R. Bawa Muhayyaddeen)

Menggali Kedalaman

February 6th, 2006 by melissa-secretgarden

Apabila Anda menggali sumur, Anda harus menggalinya jauh ke dalam sampai Anda menemukan sumber mata airnya. Dapatkah sumur itu penuh tanpa mencapai sumber yang dalam itu? Bila Anda bergantung pada hujan atau sumber luar lain untuk mengisi sumur itu, maka air itu hanya akan menguap atau diserap oleh tanah. Lalu, bagaimana Anda dapat membasuh diri Anda atau menghilangkan dahaga Anda? Hanya jika Anda menggali cukup dalam untuk mendapatkan mata air, maka Anda akan sampai pada sumber air yang tak habis-habisnya. Demikian juga halnya, jika Anda hanya membaca ayat-ayat dari kitab suci, tanpa menggali
lebih dalam untuk mencari maknanya, hal itu seperti menggali sebuah sumur tanpa mencapai mata airnya atau seperti mencoba mengisinya dengan air hujan. Kedua cara ini tidak akan memadai. Hanya apabila Anda membuka mata air yang ada di
dalamnya dan ilmu Tuhan mengalir dari sana, maka mata air sifat-sifat Tuhan akan mengisi hatimu. Hanya setelah itu Anda dapat menerima kekayaan-Nya. Hanya setelah itu Anda akan mendapatkan kedamaian dan ketenangan. Kearifan dan ilmu Tuhan ini harus timbul dari dalam diri Anda; kisah Tuhan dan doa mesti dipahami dari sisi batin. Maka Anda akan memperoleh semua yang Anda butuhkan untuk diri Anda, dan Anda juga akan merasa cukup untuk berbagi dengan orang lain.

(from M.R. Bawa Muhayyaddeen)

Belajar dari “Gelapnya” Kehidupan (sebuah kilasan film Black karya Sanjay Leela Bhansali)

February 6th, 2006 by melissa-secretgarden

Black_amitabh Hitamnya kehidupan “dunia” dibahasakan melalui perjalanan hidup seorang gadis bisu-tuli-buta Michelle McNally (Rani Mukerjee) yang terlukis indah dan elegan dalam kanvas film garapan Sanjay Leela Bhansali, “BLACK”.

Film yang tayang sebagai miniseri di sebuah stasiun TV beberapa minggu yang lalu, sudah membuat saya tertambat semenjak iklannya diputar. Image yang terbentuk di kepala saya selama ini mengenai film-film Bollywood yang kerap menjadi andalan stasiun-stasiun TV di Indonesia (for the sake of rating), seringkali membuat saya putus asa. Sedikit ada rasa lega juga karena stasiun TV akhirnya “mau” memberikan sajian film Bollywood dari genre yang berbeda, kalau tidak bisa dibilang lebih “berkelas”.

Berlatar belakang pemandangan yang sangat memukau, kabarnya film ini mengambil tempat di daerah di India bernama Himachal Pradesh. Menggambarkan kehidupan keluarga Anglo-India kalangan menengah-atas, yang tinggal di sebuah rumah mewah bergaya abad pertengahan di Shimla. Michelle kecil (diperankan dengan cemerlang oleh Ayesha Kapur) ditakdirkan hidup dengan dunianya yang “hitam”, tertutupi oleh kebisu-tuli-butaannya semenjak lahir. Tidak ada warna-warni dan suara dalam dunianya, ia dilingkupi oleh kesunyian dan kegelapan. Ia seperti mati dari segala emosi, kecuali satu : kemarahannya yang tak terkendali. Mungkin kemarahan karena merasa dunianya begitu diliputi sunyi dan menyendiri. Yang ia tahu hanyalah sentuhan “maa” yang begitu lembut di pipinya. Karena mungkin juga itu satu-satunya cara yang diketahui sang ibu untuk berkomunikasi dengannya, selain membiarkannya mengamuk, mengeluarkan kemarahan di hampir setiap kesempatan.

Rani_black Seberkas cahaya dibawa ke dalam kehidupan Michelle oleh seorang Debraj Sahai (Amitabh Bachchan). Sang guru berbekal dengan pengalaman panjang hidupnya, percaya pada Michelle. Ia percaya bahwa seorang bisu-tuli-buta seperti Michelle tidak ditakdirkan hidup dalam “kegelapan” yang sesungguhnya. Ia percaya dengan segenap hatinya, hingga ia harus membentak, menampar dan menghempas Michelle kecil yang sangat marah, sampai akhirnya dengan kemarahan itu pula Michelle memaksa dirinya untuk memberikan kepercayaan itu kepada dirinya sendiri. Sesuatu yang samasekali tidak pernah ia lakukan, bahkan tidak berani ia bayangkan.

"Water" adalah kata pertama yang punya makna bagi Michelle, lewat hembusan udara dan gerakan bibir sang guru yang ia rasakan di telapak tangannya. Adegan yang mengundang luapan emosi dan kaya makna. Bersamaan dengan kata-kata itu pula sedikit-demi sedikit berkas cahaya menerangi dunia Michelle. Ditemani Sahai, hidupnya mulai sedikit demi sedikit berhias warna-warni, cerita dan lagu-lagu yang menyenangkan, walaupun bagi sang mentor ini belum selesai.

Michelle pun beranjak dewasa, tumbuh bersama dengan mimpi-mimpi barunya. Mimpi-mimpi yang semakin dipercayai dan menjadi visi hidupnya. Ketika bagi kebanyakan orang lulus dari perguruan tinggi umum untuk gadis seperti Michelle adalah mustahil, dengan lantang Sahai menjawab, “Mustahil adalah kata-kata yang tidak pernah aku ajarkan padanya…” Dan mereka berdua pun berjalan menuju cahaya.

Kerja keras Michelle dan pengorbanan Sahai seolah menjadi tonggak pesan yang mesti disimak. Betapa hidup berjalan sesuai dengan hukumnya, sebuah puncak hanya bisa digapai dengan pendakian yang terjal, karena di puncak sana engkau akan lebih dekat dengan matahari. Kesabaran Sahai “membacakan” seluruh buku-buku pelajaran bagi Michelle lewat isyarat tangannya serta usaha keras Michelle berlatih mengetik lebih cepat lagi dari hanya 10 huruf per menit, semua hanya untuk membuat Michelle menjadi manusia yang tegar mandiri.

Kegagalan Michelle yang kesekian kali, membuat film ini begitu menyentuh realita. Saat-saat dimana dengan terbata-bata, Michelle ditemani Sahai, menelpon ibu untuk mengabarkan ke-tidak lulus-annya, mengatakan betapa Sahai marah padanya dan betapa ia mencintai ibunya… Dan ketika kegagalan membuat Michelle hampir terhempas, uluran sang guru adalah yang paling dibutuhkannya. Sekali lagi tamparan sang guru membuat Michelle bangun dari ketidakberdayaan dan sadar bahwa … ternyata ujung itu sudah semakin dekat.

Di tengah jatuh bangunnya Michelle menjalani hidup, ternyata sang guru pun dihadapkan pada takdir, ingatannya semakin luntur karena penyakit Alzheimer. Warna-warni memorinya perlahan tapi pasti dikaburkan hingga akhirnya hilang sama sekali. “Manusia lahir dari kegelapan menuju cahaya untuk akhirnya kembali ke kegelapan lagi” demikian sepenggal kalimat yang diyakini Michelle.

Setelah 40 tahun berjuang mendaki, akhirnya seorang Michelle McNally berhasil menggapai mimpi, ketika orang yang memberi warna pada hidupnya justru malah terpasung di sebuah rumah sakit jiwa. Orang yang paling bahagia melihatnya diwisuda, yang selalu ia janjikan untuk melihatnya pertama kali berjalan memakai jubah toga-nya, tidak ada menemani.

Dan akhirnya janji itu ia tepati. Michelle McNally berdiri di depan guru tercinta memakai jubah toga kelulusannya. Sang guru yang renta, dengan tangan dan kepala yang gemetar karena ketuaannya, berdiri didalam “kegelapan” dunianya saat ini, menatap muridnya bangga. Ada kebahagiaan yang membuncah disana, ketika mereka berdua saling mengajarkan kehidupan kepada satu sama lain, muridnya adalah juga gurunya… Dan mereka pun menarikan tarian kemenangan milik mereka berdua.

Betapa dunia mereka sungguh terhubung dengan cinta dan ketulusan yang sangat. Bahkan di saat seorang Michelle harus menjadi guru bagi gurunya sendiri, mengajarkan lagi kata pertama yang dulu dikenalkan sang guru kepadanya, “Water” …

ic@06/02/06