Belajar dari “Gelapnya” Kehidupan (sebuah kilasan film Black karya Sanjay Leela Bhansali)

Black_amitabh Hitamnya kehidupan “dunia” dibahasakan melalui perjalanan hidup seorang gadis bisu-tuli-buta Michelle McNally (Rani Mukerjee) yang terlukis indah dan elegan dalam kanvas film garapan Sanjay Leela Bhansali, “BLACK”.

Film yang tayang sebagai miniseri di sebuah stasiun TV beberapa minggu yang lalu, sudah membuat saya tertambat semenjak iklannya diputar. Image yang terbentuk di kepala saya selama ini mengenai film-film Bollywood yang kerap menjadi andalan stasiun-stasiun TV di Indonesia (for the sake of rating), seringkali membuat saya putus asa. Sedikit ada rasa lega juga karena stasiun TV akhirnya “mau” memberikan sajian film Bollywood dari genre yang berbeda, kalau tidak bisa dibilang lebih “berkelas”.

Berlatar belakang pemandangan yang sangat memukau, kabarnya film ini mengambil tempat di daerah di India bernama Himachal Pradesh. Menggambarkan kehidupan keluarga Anglo-India kalangan menengah-atas, yang tinggal di sebuah rumah mewah bergaya abad pertengahan di Shimla. Michelle kecil (diperankan dengan cemerlang oleh Ayesha Kapur) ditakdirkan hidup dengan dunianya yang “hitam”, tertutupi oleh kebisu-tuli-butaannya semenjak lahir. Tidak ada warna-warni dan suara dalam dunianya, ia dilingkupi oleh kesunyian dan kegelapan. Ia seperti mati dari segala emosi, kecuali satu : kemarahannya yang tak terkendali. Mungkin kemarahan karena merasa dunianya begitu diliputi sunyi dan menyendiri. Yang ia tahu hanyalah sentuhan “maa” yang begitu lembut di pipinya. Karena mungkin juga itu satu-satunya cara yang diketahui sang ibu untuk berkomunikasi dengannya, selain membiarkannya mengamuk, mengeluarkan kemarahan di hampir setiap kesempatan.

Rani_black Seberkas cahaya dibawa ke dalam kehidupan Michelle oleh seorang Debraj Sahai (Amitabh Bachchan). Sang guru berbekal dengan pengalaman panjang hidupnya, percaya pada Michelle. Ia percaya bahwa seorang bisu-tuli-buta seperti Michelle tidak ditakdirkan hidup dalam “kegelapan” yang sesungguhnya. Ia percaya dengan segenap hatinya, hingga ia harus membentak, menampar dan menghempas Michelle kecil yang sangat marah, sampai akhirnya dengan kemarahan itu pula Michelle memaksa dirinya untuk memberikan kepercayaan itu kepada dirinya sendiri. Sesuatu yang samasekali tidak pernah ia lakukan, bahkan tidak berani ia bayangkan.

"Water" adalah kata pertama yang punya makna bagi Michelle, lewat hembusan udara dan gerakan bibir sang guru yang ia rasakan di telapak tangannya. Adegan yang mengundang luapan emosi dan kaya makna. Bersamaan dengan kata-kata itu pula sedikit-demi sedikit berkas cahaya menerangi dunia Michelle. Ditemani Sahai, hidupnya mulai sedikit demi sedikit berhias warna-warni, cerita dan lagu-lagu yang menyenangkan, walaupun bagi sang mentor ini belum selesai.

Michelle pun beranjak dewasa, tumbuh bersama dengan mimpi-mimpi barunya. Mimpi-mimpi yang semakin dipercayai dan menjadi visi hidupnya. Ketika bagi kebanyakan orang lulus dari perguruan tinggi umum untuk gadis seperti Michelle adalah mustahil, dengan lantang Sahai menjawab, “Mustahil adalah kata-kata yang tidak pernah aku ajarkan padanya…” Dan mereka berdua pun berjalan menuju cahaya.

Kerja keras Michelle dan pengorbanan Sahai seolah menjadi tonggak pesan yang mesti disimak. Betapa hidup berjalan sesuai dengan hukumnya, sebuah puncak hanya bisa digapai dengan pendakian yang terjal, karena di puncak sana engkau akan lebih dekat dengan matahari. Kesabaran Sahai “membacakan” seluruh buku-buku pelajaran bagi Michelle lewat isyarat tangannya serta usaha keras Michelle berlatih mengetik lebih cepat lagi dari hanya 10 huruf per menit, semua hanya untuk membuat Michelle menjadi manusia yang tegar mandiri.

Kegagalan Michelle yang kesekian kali, membuat film ini begitu menyentuh realita. Saat-saat dimana dengan terbata-bata, Michelle ditemani Sahai, menelpon ibu untuk mengabarkan ke-tidak lulus-annya, mengatakan betapa Sahai marah padanya dan betapa ia mencintai ibunya… Dan ketika kegagalan membuat Michelle hampir terhempas, uluran sang guru adalah yang paling dibutuhkannya. Sekali lagi tamparan sang guru membuat Michelle bangun dari ketidakberdayaan dan sadar bahwa … ternyata ujung itu sudah semakin dekat.

Di tengah jatuh bangunnya Michelle menjalani hidup, ternyata sang guru pun dihadapkan pada takdir, ingatannya semakin luntur karena penyakit Alzheimer. Warna-warni memorinya perlahan tapi pasti dikaburkan hingga akhirnya hilang sama sekali. “Manusia lahir dari kegelapan menuju cahaya untuk akhirnya kembali ke kegelapan lagi” demikian sepenggal kalimat yang diyakini Michelle.

Setelah 40 tahun berjuang mendaki, akhirnya seorang Michelle McNally berhasil menggapai mimpi, ketika orang yang memberi warna pada hidupnya justru malah terpasung di sebuah rumah sakit jiwa. Orang yang paling bahagia melihatnya diwisuda, yang selalu ia janjikan untuk melihatnya pertama kali berjalan memakai jubah toga-nya, tidak ada menemani.

Dan akhirnya janji itu ia tepati. Michelle McNally berdiri di depan guru tercinta memakai jubah toga kelulusannya. Sang guru yang renta, dengan tangan dan kepala yang gemetar karena ketuaannya, berdiri didalam “kegelapan” dunianya saat ini, menatap muridnya bangga. Ada kebahagiaan yang membuncah disana, ketika mereka berdua saling mengajarkan kehidupan kepada satu sama lain, muridnya adalah juga gurunya… Dan mereka pun menarikan tarian kemenangan milik mereka berdua.

Betapa dunia mereka sungguh terhubung dengan cinta dan ketulusan yang sangat. Bahkan di saat seorang Michelle harus menjadi guru bagi gurunya sendiri, mengajarkan lagi kata pertama yang dulu dikenalkan sang guru kepadanya, “Water” …

ic@06/02/06

Leave a Reply